BISDIGVERSE.COM, BANDUNG – Era di mana ijazah menjadi satu-satunya 'tiket emas' menuju dunia kerja telah bergeser. Di tengah gelombang disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital yang melaju pesat, industri kini berburu talenta yang mampu membuktikan kompetensi dan keterampilan nyatanya secara langsung.
Pesan kuat tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., dalam paparan keynote-nya pada International Seminar of Eurasia Community 2026 bertema Entrepreneurship Based Community Empowerment Model in Europe and Asia yang berkolaborasi dengan Universitas Pasundan (Unpas), Bandung.
Dalam orasi ilmiah bertajuk "Menjadi Talenta Adaptif di Dunia Kerja yang Terus Berubah", Prof. Sugeng membakar semangat ratusan mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, melainkan penggerak utama di era ekonomi baru.
Lanskap Dunia Kerja Baru: 170 Juta Peluang Emas Menanti
Prof. Sugeng mengungkapkan bahwa saat ini dunia kerja global digerakkan oleh tiga pendorong utama (global drivers): disrupsi AI & Digitalisasi, Transisi Hijau & Keberlanjutan (Green Transition), serta Pergeseran Demografi & Care Economy. Perubahan ini merestrukturisasi empat sektor ekonomi masa depan, mulai dari Digital & Creative Economy hingga Green, Blue, & Circular Economy.
Mengutip laporan The Future of Jobs Report dari World Economic Forum (WEF), Prof. Sugeng menegaskan bahwa meski ada 92 juta pekerjaan yang terotomasi atau terancam hilang pada tahun 2030, terdapat 170 juta pekerjaan baru yang tercipta.
"Dunia kerja memang berubah cepat, tetapi perubahan ini melahirkan jauh lebih banyak peluang baru ketimbang tantangannya. Kuncinya ada pada kesiapan kita untuk melakukan reskilling dan upskilling. Jangan takut pada otomasi, jadikan AI sebagai mitra untuk melompat lebih tinggi," tegas Prof. Sugeng di hadapan para peserta.
Profesi-profesi masa depan seperti Big Data Specialist, Fintech Engineer, AI and Machine Learning Specialist, hingga Renewable Energy Engineer mencatatkan lonjakan pertumbuhan kebutuhan hingga lebih dari 100%.
Era "Skills, Not Schools": Rekrutmen Berbasis Portofolio Real
Salah satu sorotan utama dalam paparan Kemnaker adalah pergeseran drastis tren rekrutmen global menuju paradigma "Skills, Not Schools". Data menunjukkan bahwa 97% perusahaan kini menggunakan metode rekrutmen berbasis skill untuk posisi entry-level, dan 96% perusahaan mengakui bahwa sertifikasi kompetensi sangat memperkuat profil calon pekerja.
Bahkan di Indonesia, lanskap pasar kerja di era Age of AI mencatat bahwa 69% pemimpin perusahaan menyatakan tidak akan merekrut seseorang yang tidak memiliki keterampilan AI.
Prof. Sugeng berpesan agar mahasiswa tidak menunda pengembangan diri hingga masa kelulusan. Mahasiswa didorong untuk mentransformasi kemampuan dari sekadar I-shaped (satu keahlian tunggal) menjadi M-shaped competency, yakni memiliki multi-keahlian yang adaptif dan siap berkolaborasi lintas disiplin.
"Jangan lulus hanya membawa lembar ijazah dan transkrip nilai. Luluslah dengan portofolio karya, pengalaman magang, sertifikasi kompetensi, dan keahlian yang dapat dibuktikan. Portofolio lengkap itulah yang bernilai paling tinggi di mata dunia usaha dan dunia industri (DUDI)."
5 Pilar Utama Talenta Masa Depan
Untuk membentuk generasi muda yang tangguh dan kompetitif, Prof. Sugeng merumuskan lima pilar keterampilan dan pola pikir wajib bagi mahasiswa:
Core & Technical Skills: Membangun fondasi keahlian teknis sesuai disiplin ilmu melalui siklus Learn, Practice, Intern, Certify, dan Build Portfolio.
Human Skills (Keterampilan Kemanusiaan): Teknologi membuat kerja lebih cepat, tetapi human skills menentukan arahnya. Ini mencakup empati, integritas (Care), berpikir kritis dan pemecahan masalah (Think), komunikasi dan kolaborasi (Connect), serta kepemimpinan (Leadership).
AI Collaboration Skills: AI unggul dalam kecepatan dan pengolahan data masif, namun manusia tetap memegang keunggulan mutlak pada judgment, etika, kreativitas, empati, dan kepemimpinan.
Growth Mindset: Pola pikir berkembang (growth mindset) untuk terus belajar, pantang menyerah saat menghadapi hambatan, serta memandang feedback sebagai sarana evaluasi diri.
Innopreneurship & Entrepreneurial Mindset: Menggabungkan inovasi dan kewirausahaan untuk menciptakan nilai tambah. Jiwa entrepreneurship ini tidak hanya diperuntukkan bagi pebisnis, tetapi juga wajib dimiliki oleh peneliti, engineer, hingga birokrat/ASN untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat.
Menjawab Mismatch Kerja: Komitmen Pemerintah untuk Generasi Muda
Mengatasi ketimpangan (mismatch) antara lulusan perguruan tinggi (1,21 juta pengangguran terdidik) dengan kebutuhan industri (48% perusahaan kesulitan mencari talenta yang pas), Kementerian Ketenagakerjaan terus menghadirkan jembatan nyata.
Pada tahun 2026, Kemnaker menargetkan Pelatihan Vokasi Nasional bagi 340.000 peserta serta Program Magang Nasional bagi 150.000 peserta guna memperkuat transisi dari kampus ke dunia kerja (school-to-work transition). Selain itu, infrastruktur pasar kerja berbasis digital seperti SIAPkerja / Labor Market Information System (LMIS) serta fasilitas pemberdayaan seperti Talent & Innovation Hub terus diperluas untuk membuka akses kerja dan wirausaha mandiri secara inklusif.
Waktunya Generasi Muda Mengambil Peran
Mengakhiri paparannya, Prof. Sugeng menekankan bahwa jalan karier masa depan—baik sebagai profesional, wirausahawan, akademisi, maupun pemimpin publik—selalu bermula dari fondasi yang dibangun sejak masa perkuliahan.
Dunia kerja masa depan tidak lagi mencari siapa yang paling lama duduk di bangku kelas, melainkan siapa yang paling cepat beradaptasi, berinovasi, dan memberi dampak positif bagi sesama.
Bagi para mahasiswa, inilah saatnya menyingsingkan lengan baju: bangun portofolio Anda, kuasai teknologi, asah empati kemanusiaan, dan jadilah talenta adaptif yang siap menaklukkan dunia!

