Bandung, 17 September 2026 — Nilai-nilai wawasan kebangsaan ditegaskan kembali sebagai fondasi penting dalam memperkuat pembangunan ekonomi Indonesia dalam Acara Sosialisasi Wawasan Kebangsaan yang disampaikan oleh Molana Jemy, S.H., M.H., seorang perwira dengan rekam jejak panjang di lingkungan TNI AD.
Dalam dokumen presentasi yang disampaikan, Molana Jemy memaparkan bahwa “pembangunan nilai-nilai wawasan kebangsaan merupakan modal dasar untuk menunjang pertumbuhan ekonomi”. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh modal, teknologi, dan kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh cara pandang masyarakat terhadap persatuan, tanggung jawab bersama, dan kepentingan nasional.
Riwayat Jabatan Pembicara
Molana Jemy, S.H., M.H. tercatat pernah mengemban sejumlah jabatan strategis di lingkungan TNI AD, antara lain:
Divif 1 Kostrad (1992)
Yonif Linud 330 Brigif L 17 Divif 1 Kostrad (1996)
Kodiklat TNI AD (2002)
Pusdikkum (2012)
Kumdam XII/Tpr (2014)
STHM Ditkumad (2021)
Ditkumad (2021)
Kodiklatad (2024)
Rekam jejak tersebut menunjukkan keterlibatan Molana Jemy dalam pembinaan hukum, pendidikan karakter, dan penguatan wawasan kebangsaan di tubuh TNI AD.

Pancasila sebagai Arah Pembangunan Ekonomi
Dalam paparannya, Molana Jemy menegaskan bahwa nilai-nilai wawasan kebangsaan tidak dapat dipisahkan dari Pancasila. Ia mengutip bahwa “Pancasila memberikan arah agar kegiatan ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.”
Pasal 33 UUD 1945 juga menjadi landasan konstitusional pembangunan ekonomi Indonesia, menegaskan prinsip kekeluargaan, demokrasi ekonomi, keberlanjutan, dan pemerataan.
Keragaman Indonesia sebagai Kekuatan Ekonomi
Molana Jemy menyampaikan bahwa Indonesia memiliki keragaman suku, agama, budaya, dan sumber daya alam yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan semangat persatuan dan gotong royong. Dalam dokumen disebutkan: “Keragaman dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dengan semangat persatuan, keadilan, gotong royong, dan kepentingan nasional.”
Mahasiswa sebagai Agen Penggerak Ekonomi Berbasis Nilai Kebangsaan
Mahasiswa disebut memiliki peran strategis sebagai calon intelektual, profesional, pengusaha, dan pemimpin masa depan. Mereka diharapkan mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kepentingan pembangunan bangsa.
Molana Jemy menekankan bahwa “cinta tanah air harus diwujudkan melalui karya, kompetensi, dan kontribusi nyata.”
Contoh kontribusi mahasiswa yang disampaikan dalam materi meliputi:
Mengembangkan produk lokal berkualitas
Membantu digitalisasi UMKM
Menguasai teknologi dan inovasi
Menolak korupsi dan menjaga integritas
Mengembangkan riset untuk kepentingan publik
Nilai-Nilai Kebangsaan yang Menopang Ekonomi
Dalam sesi pembahasan, Molana Jemy menguraikan sejumlah nilai kebangsaan yang memiliki dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi, seperti:
Persatuan dan Kesatuan → menciptakan stabilitas sosial dan kelancaran perdagangan antarwilayah
Gotong Royong → memperkuat usaha masyarakat dan koperasi
Keadilan Sosial → mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kualitas SDM
Kemandirian Bangsa → memperkuat industri nasional dan daya saing
Taat Hukum → meningkatkan kepercayaan investor dan kepastian berusaha
Semangat Bela Negara → diwujudkan melalui inovasi, integritas, dan kontribusi profesional
Kesimpulan: Wawasan Kebangsaan sebagai Motor Ekonomi Berkelanjutan
Molana Jemy menutup materinya dengan penegasan bahwa wawasan kebangsaan yang kuat bukan hanya menjaga persatuan Indonesia, tetapi juga “menggerakkan seluruh potensi bangsa untuk membangun ekonomi yang mandiri, produktif, adil, dan berkelanjutan.”
Acara ini menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari karakter dan identitas bangsa yang telah menjadi fondasi sejak awal berdiri.

