Kembali ke Portal Berita
Riset & Analisis

Lingkungan Membentuk Kita: Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Perkembangan Diri?

KHAIDAR ALI FADILAH
KHAIDAR ALI FADILAHKreator Mahasiswa
20 Oktober 2026
3 min read
154 views
Lingkungan Membentuk Kita: Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Perkembangan Diri?

Mengapa sebagian orang terus berkembang, mempelajari keterampilan baru, dan berani mengejar tujuannya, sementara sebagian lainnya merasa kesulitan keluar dari kebiasaan lama? Jawabannya tidak selalu terletak pada tingkat kecerdasan, motivasi, atau kemampuan individu. Lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi juga dapat berperan dalam membentuk pola pikir, kebiasaan, serta cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak berkembang secara terpisah dari lingkungan. Keluarga menjadi tempat seseorang mengenal nilai dan kebiasaan awal. Teman sebaya dapat memengaruhi cara seseorang berperilaku dan mengambil keputusan. Sementara itu, sekolah, kampus, komunitas, dan lingkungan kerja memberikan pengalaman yang dapat memperluas pengetahuan serta kemampuan individu.

Namun, lingkungan tidak selalu memberikan pengaruh yang sama. Ada lingkungan yang mendorong seseorang untuk belajar, mencoba hal baru, dan mengevaluasi dirinya. Sebaliknya, ada pula lingkungan yang membuat seseorang enggan berubah karena perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa, usaha untuk berkembang kurang dihargai, atau kebiasaan yang kurang produktif terus dipertahankan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana lingkungan memengaruhi perkembangan diri, dan apakah seseorang tetap dapat berkembang ketika berada di lingkungan yang kurang mendukung?

Memahami Hubungan antara Lingkungan dan Perkembangan Diri

Perkembangan diri merupakan proses berkelanjutan ketika seseorang meningkatkan pengetahuan, keterampilan, pola pikir, kemampuan sosial, serta kapasitasnya dalam mencapai tujuan. Proses ini tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui pengalaman, interaksi sosial, pengamatan, dan evaluasi terhadap perilaku sendiri.

Dalam memahami proses tersebut, penting untuk melihat individu sebagai bagian dari lingkungan yang lebih luas. Lingkungan bukan hanya tempat seseorang tinggal, melainkan juga mencakup hubungan sosial, aturan, nilai, kesempatan, dan pengalaman yang ditemuinya sehari-hari.

Salah satu landasan yang relevan adalah teori ekologi perkembangan manusia yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner. Dalam bukunya, The Ecology of Human Development (1979), Bronfenbrenner menjelaskan perkembangan manusia melalui hubungan antara individu dan berbagai sistem lingkungan yang mengelilinginya.

Perspektif ini membantu kita memahami bahwa perkembangan seseorang tidak hanya berkaitan dengan keluarga atau teman terdekat. Lingkungan pendidikan, institusi, kondisi sosial, dan nilai budaya yang lebih luas juga dapat memengaruhi pengalaman serta kesempatan yang dimiliki individu.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan. Keinginan tersebut dapat memperoleh dukungan ketika ia memiliki akses ke organisasi, mentor, kegiatan diskusi, dan proyek kolaboratif. Sebaliknya, kesempatan yang terbatas dapat membuat proses pengembangan kemampuan tersebut menjadi lebih sulit.

Meskipun demikian, lingkungan tidak menentukan masa depan seseorang secara mutlak. Pengaruh lingkungan berinteraksi dengan karakter, pengalaman, keputusan, dan tindakan individu. Dengan demikian, lingkungan lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung atau menghambat perkembangan diri, bukan sebagai satu-satunya penentu keberhasilan.

Bagaimana Lingkungan Memengaruhi Cara Kita Berkembang?

Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan diri dapat dipahami melalui beberapa mekanisme. Di antaranya adalah pembelajaran melalui pengamatan, pengaruh teman sebaya, dan kesempatan yang tersedia dalam lingkungan sosial.

A. Social Learning Theory: Kita Belajar dari Apa yang Kita Amati

Albert Bandura mengembangkan Social Learning Theory, yang menjelaskan bahwa manusia dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan terhadap orang lain. Dalam bukunya yang berjudul Social Learning Theory (1977), Bandura membahas bagaimana pengamatan, proses kognitif, dan konsekuensi perilaku berperan dalam pembelajaran sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak selalu harus mengalami sesuatu secara langsung untuk mempelajarinya. Ia dapat mengamati bagaimana orang lain menyelesaikan masalah, menghadapi kegagalan, berkomunikasi, atau mencapai tujuan.

Misalnya, seorang mahasiswa yang berada di lingkungan teman-teman yang terbiasa berdiskusi, membaca, dan mengikuti kegiatan pengembangan keterampilan dapat memperoleh contoh konkret tentang bagaimana kebiasaan tersebut dilakukan. Melalui pengamatan dan interaksi, ia berkesempatan mempelajari cara mengatur waktu, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan pekerjaan secara terstruktur.

Sebaliknya, jika lingkungan sosialnya terus-menerus menganggap usaha belajar sebagai sesuatu yang tidak penting, ia mungkin menghadapi tekanan sosial ketika mencoba membangun kebiasaan baru.

Namun, pengaruh tersebut tidak berlangsung secara otomatis. Seseorang dapat mengamati perilaku yang sama tanpa harus menirunya. Keputusan untuk meniru atau menolak suatu perilaku juga dipengaruhi oleh penilaian, tujuan, pengalaman, dan keyakinan individu.

Artinya, lingkungan menyediakan contoh perilaku, tetapi individu tetap memiliki peran dalam menentukan apa yang akan dipelajarinya dan diterapkan dalam kehidupan.

B. Pengaruh Teman Sebaya: Kebiasaan Sosial Dapat Memengaruhi Pilihan Individu

Teman sebaya merupakan bagian penting dari lingkungan sosial, terutama ketika seseorang mulai membangun identitas, menentukan prioritas, dan mengambil keputusan secara lebih mandiri.

Pengaruh teman tidak selalu muncul melalui nasihat atau ajakan langsung. Pengaruh tersebut dapat terjadi secara tidak langsung melalui kebiasaan kelompok, standar yang dianggap normal, serta respons sosial terhadap perilaku tertentu.

Penelitian Montgomery dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Preventive Medicine pada 2020 meninjau 55 studi mengenai jaringan pertemanan dan perilaku kesehatan remaja. Tinjauan tersebut menemukan bahwa kesamaan perilaku dalam kelompok pertemanan dapat berkaitan dengan dua proses berbeda: pemilihan teman yang memiliki kesamaan dan pengaruh sosial yang membuat perilaku antaranggota menjadi lebih serupa.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa kemiripan perilaku dalam suatu kelompok tidak selalu berarti seseorang berubah akibat pengaruh temannya. Bisa jadi, sejak awal individu memang memilih teman dengan kebiasaan atau karakteristik yang serupa.

Walaupun penelitian tersebut berfokus pada perilaku kesehatan remaja, konsep pengaruh sosialnya dapat menjadi bahan untuk memahami pentingnya lingkungan pertemanan. Namun, hasil penelitian tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa teman tertentu pasti meningkatkan atau menghambat seluruh aspek perkembangan diri seseorang.

Dalam konteks pengembangan diri, misalnya, mahasiswa yang ingin meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dapat memperoleh kesempatan berlatih melalui komunitas debat atau organisasi. Interaksi dengan orang-orang yang memiliki tujuan serupa dapat membuat latihan terasa lebih wajar dan memberikan ruang untuk menerima umpan balik.

Sebaliknya, seseorang yang ingin belajar keterampilan baru mungkin menghadapi hambatan apabila lingkungan terdekatnya terus meremehkan upaya tersebut. Hambatan ini tidak berarti ia pasti gagal, tetapi dapat membuat prosesnya membutuhkan usaha tambahan.

Oleh karena itu, kualitas lingkungan pertemanan perlu dilihat dari bagaimana hubungan tersebut memengaruhi kebiasaan, pilihan, dan kesempatan untuk berkembang, bukan semata-mata dari jumlah teman yang dimiliki.

C. Lingkungan Membuka atau Membatasi Kesempatan untuk Berkembang?

Selain memengaruhi perilaku melalui pengamatan dan interaksi, lingkungan juga dapat menentukan kesempatan yang tersedia bagi seseorang.

Seseorang mungkin memiliki minat besar dalam bidang bisnis, teknologi, bahasa, atau kepemimpinan. Namun, minat tersebut akan lebih mudah dikembangkan apabila ia memperoleh akses terhadap informasi, fasilitas belajar, bimbingan, dan kesempatan untuk mempraktikkan kemampuannya.

Sebagai contoh, dua mahasiswa sama-sama ingin mempelajari analisis bisnis. Mahasiswa pertama memiliki akses ke komunitas belajar, teman diskusi, dan kegiatan proyek. Mahasiswa kedua belum memiliki akses terhadap lingkungan tersebut dan harus mencari sumber belajar secara mandiri.

Perbedaan ini tidak membuktikan bahwa mahasiswa pertama pasti lebih berhasil. Akan tetapi, mahasiswa pertama mungkin memperoleh lebih banyak kesempatan untuk bertukar pengetahuan, mendapatkan umpan balik, dan mencoba keterampilan baru melalui interaksi sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan tidak hanya memengaruhi cara seseorang berpikir, tetapi juga sumber daya dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk berkembang.

Di sisi lain, lingkungan yang mendukung tidak harus berupa komunitas besar atau kelompok dengan anggota yang memiliki prestasi tinggi. Satu orang mentor, komunitas daring yang relevan, perpustakaan, atau ruang belajar yang kondusif pun dapat menjadi sumber dukungan.

Dengan demikian, memperbaiki lingkungan tidak selalu berarti meninggalkan lingkungan lama. Terkadang, langkah yang lebih realistis adalah menambahkan sumber dukungan baru yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan diri.

Lingkungan yang Mendukung Bukan Berarti Lingkungan Tanpa Tantangan

Ketika membahas lingkungan yang baik untuk perkembangan diri, muncul anggapan bahwa seseorang harus selalu berada di antara orang-orang yang sepemikiran dan memberikan dukungan. Padahal, lingkungan yang mendukung tidak harus selalu nyaman atau bebas dari perbedaan pendapat.

Kritik yang disampaikan secara konstruktif, misalnya, dapat membantu seseorang menyadari kelemahan yang sebelumnya tidak terlihat. Diskusi dengan orang yang memiliki sudut pandang berbeda juga dapat memperluas pemahaman dan menguji kualitas suatu gagasan.

Yang membedakan lingkungan yang mendukung dan menghambat bukan sekadar apakah seseorang merasa nyaman, melainkan apakah interaksi di dalamnya memberikan ruang untuk belajar, mengevaluasi kesalahan, dan memperbaiki diri.

Bayangkan seorang mahasiswa yang mempresentasikan ide bisnis di hadapan teman-temannya. Ada dua kemungkinan respons yang berbeda. Pertama, teman-temannya mengkritik ide tersebut dengan alasan yang jelas, menunjukkan kelemahannya, dan menyarankan perbaikan. Kedua, mereka menertawakan ide tersebut tanpa memberikan penjelasan yang berguna.

Keduanya mungkin sama-sama menimbulkan ketidaknyamanan. Namun, respons pertama menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas gagasan, sedangkan respons kedua tidak memberikan umpan balik yang sebanding.

Karena itu, lingkungan yang sehat bukanlah lingkungan yang selalu menyetujui kita, melainkan lingkungan yang memungkinkan perbedaan pendapat digunakan untuk belajar dan berkembang.

Pada saat yang sama, individu perlu mengembangkan kemampuan menerima kritik, membedakan masukan yang bermanfaat dari tekanan sosial, dan mempertahankan penilaian yang rasional terhadap dirinya sendiri.

Apakah Seseorang Tetap Bisa Berkembang dalam Lingkungan yang Kurang Mendukung?

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk memilih lingkungan tempat mereka tinggal, belajar, atau bekerja. Faktor ekonomi, keluarga, lokasi, dan tanggung jawab pribadi dapat membatasi pilihan seseorang.

Oleh sebab itu, menyatakan bahwa seseorang hanya perlu meninggalkan lingkungan yang tidak mendukung merupakan penyederhanaan masalah. Dalam banyak situasi, perubahan lingkungan tidak dapat dilakukan secara langsung.

Namun, perkembangan diri masih dapat diupayakan melalui langkah-langkah yang sesuai dengan kondisi individu.

Pertama, seseorang dapat mengevaluasi kebiasaan dan pengaruh yang diterimanya. Evaluasi ini membantu membedakan perilaku yang benar-benar mendukung tujuan pribadi dari perilaku yang hanya dilakukan karena mengikuti kebiasaan kelompok.

Kedua, ia dapat memperluas sumber pembelajaran. Buku, kursus, diskusi akademik, komunitas daring, dan materi pendidikan yang kredibel dapat memberikan akses terhadap pengetahuan di luar lingkungan terdekat.

Ketiga, seseorang dapat membangun kebiasaan secara mandiri. Menetapkan jadwal belajar, mencatat perkembangan keterampilan, meminta umpan balik, dan mengevaluasi hasil secara berkala dapat membantu menjaga proses pengembangan diri.

Keempat, ia dapat mencari hubungan sosial yang mendukung tujuan tertentu. Tidak semua kebutuhan harus dipenuhi oleh satu kelompok pertemanan. Seseorang dapat memiliki teman untuk bersosialisasi, mentor untuk membahas karier, dan komunitas lain untuk mengembangkan keterampilan.

Langkah-langkah tersebut bukan jaminan keberhasilan. Akan tetapi, pendekatan ini menempatkan individu sebagai pihak yang tetap memiliki ruang untuk mengambil keputusan, sekaligus mengakui bahwa kesempatan setiap orang tidak selalu sama.

Pada akhirnya, kemampuan untuk berkembang bukan hanya persoalan berada di lingkungan yang ideal, tetapi juga tentang mengenali sumber daya yang tersedia dan memanfaatkannya secara realistis.

Membangun Lingkungan yang Mendukung Perkembangan Diri

Memahami pengaruh lingkungan seharusnya tidak berhenti pada penilaian apakah orang-orang di sekitar kita baik atau buruk. Pemahaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat membantu proses pengembangan diri.

Ada beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Tentukan arah perkembangan diri.

Seseorang perlu mengetahui kemampuan apa yang ingin dikembangkan, seperti komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, atau kemampuan berpikir kritis. Tujuan yang jelas membantu individu menilai jenis pengalaman dan lingkungan yang dibutuhkannya.

2. Evaluasi pengaruh lingkungan secara objektif.

Perhatikan apakah kebiasaan sehari-hari membantu mencapai tujuan atau justru sering mengalihkan perhatian. Evaluasi sebaiknya didasarkan pada pola perilaku dan pengalaman nyata, bukan prasangka terhadap orang lain.

3. Cari lingkungan belajar yang relevan.

Bergabung dengan komunitas, mengikuti kegiatan akademik, berdiskusi dengan mentor, atau berpartisipasi dalam proyek dapat memperluas kesempatan untuk belajar. Pilih kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang tersedia.

4. Bangun kebiasaan yang tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain.

Lingkungan yang mendukung memang bermanfaat, tetapi kebiasaan belajar, disiplin, dan evaluasi diri juga perlu dibangun secara pribadi. Dengan demikian, proses perkembangan tidak sepenuhnya bergantung pada motivasi dari orang lain.

5. Berikan pengaruh positif kepada lingkungan.

Seseorang bukan hanya penerima pengaruh lingkungan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari lingkungan yang memengaruhi orang lain. Berbagi pengetahuan, memberikan umpan balik yang membangun, dan mengajak orang lain belajar bersama merupakan contoh sederhana dari peran tersebut.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa membangun lingkungan yang mendukung tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Perubahan dapat dimulai dari kebiasaan kecil, hubungan yang lebih sehat, dan keputusan yang konsisten dengan tujuan pribadi.

Lingkungan Memengaruhi Kita, tetapi Tidak Sepenuhnya Mendefinisikan Kita

Perkembangan diri merupakan hasil dari proses yang kompleks. Lingkungan sosial dapat memberikan contoh perilaku, membentuk norma kelompok, memperluas kesempatan, atau menciptakan hambatan. Namun, pengaruh tersebut tidak bekerja secara seragam pada setiap individu.

Teori pembelajaran sosial Albert Bandura membantu menjelaskan bagaimana seseorang dapat mempelajari perilaku melalui pengamatan. Sementara itu, teori ekologi perkembangan manusia Urie Bronfenbrenner menempatkan perkembangan individu dalam konteks berbagai sistem lingkungan yang saling berkaitan. Penelitian mengenai jaringan pertemanan juga menunjukkan bahwa hubungan sosial merupakan salah satu faktor yang relevan dalam memahami kesamaan dan perubahan perilaku, meskipun pengaruhnya bergantung pada konteks.

Dari perspektif tersebut, memilih lingkungan yang mendukung memang penting, tetapi bukan berarti seseorang harus memiliki pergaulan yang sempurna untuk berkembang. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana lingkungan memengaruhi pilihan dan kebiasaan, kemudian mengambil langkah yang realistis untuk memperoleh pengalaman serta dukungan yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, lingkungan dapat membantu membentuk arah perjalanan seseorang, tetapi perkembangan diri juga membutuhkan keterlibatan aktif individu dalam belajar, mengevaluasi diri, dan mengambil keputusan.

Kita tidak selalu dapat memilih lingkungan tempat kita memulai, tetapi kita dapat terus berusaha membangun kebiasaan dan mencari kesempatan yang mendukung pertumbuhan diri.


Referensi

1. American Psychological Association. (n.d.). Environmental psychology. APA Dictionary of Psychology. https://dictionary.apa.org/environmental-psychology

2. Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall. Informasi bibliografi dapat diperiksa melalui National Library of Medicine: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/nlmcatalog/101562611

3. Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press. https://doi.org/10.4159/9780674028845

4. Montgomery, S. C., Donnelly, M., Bhatnagar, P., Carlin, A., Kee, F., & Hunter, R. F. (2020). Peer social network processes and adolescent health behaviors: A systematic review. Preventive Medicine, 130, 105900. https://doi.org/10.1016/j.ypmed.2019.105900

Bagikan Reaksi Anda terhadap Berita Ini

Bagikan Artikel Ini
KHAIDAR ALI FADILAH

Tentang Penulis

KHAIDAR ALI FADILAH

Saya merupakan mahasiswa Program Studi Bisnis Digital di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan. Sebelumnya, saya bersekolah di SMK Pasundan 2 Banjaran dengan jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Saya memiliki ketertarikan pada dunia bisnis, teknologi, dan digital marketing. Saat ini, saya sedang berusaha mengembangkan kemampuan dan menambah pengalaman di bidang bisnis digital. Ke depannya, saya ingin menjadi seorang profesional yang mampu mengikuti perkembangan teknologi serta memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat internasional.

Diskusi Komunitas (0)

Tertarik ikut berdiskusi? Login di sini menggunakan akun Kreator / Editor Anda.
Belum ada komentar diskusi. Jadilah yang pertama memberikan opini cerdas Anda!